Share it

Jumat, 24 April 2009

Naskah Drama Islam (hubaib Annajar)

Narator:
Adalah sebuah negeri nun jauh bernama negeri Antokiyah di bawah seorang penguasa penyembah berhala. Raja dan kaumnya hidup dalam kekafiran sampai akhirnya datanglah dua orang penyeru yang ikhlas sebagai utusan dari Al Masih Isa Alaihissalam. Keadatangan mereka ke negeri itu untuk memberitakan sebuah kebenaran yaitu agama Tauhid yang murni dari Allah.

STAGE 1
(Dua orang masuk panggung, dengan pakaian seorang da’i, berjubah lengkap bertasbih, beberapa lama berjalan mengitari panggung, dan kemudian berhenti di tengah tengah panggung)
Rosul 1 : Alhamdulillah kawan kelihatannya negeri yang kita tuju telah dekat di depan mata kita
Rosul 2 : Indahnya negeri ini, kenikmatan Allah tercurah sempurna seandainya mereka mau mensyukurinya dengan keimanan serta mereka mau mengikuti agama nabi kita.
Rosul 1 : Itulah kawan kita jauh jauh datang kemari. Itu tugas kita kawan. Dengan kebenaran yang kita bawa semoga mereka semua terselamatkan.

(Seorang laki-laki masuk ke panggung, dengan bertongkat, berpakaian penduduk biasa dari arah berlawan. Cara berjalan menunjukkan rapuh, renta dan putus asa. Dia adalah hubaib an najar)

Rosul 1 dan 2 : (bersama sama dengan bahasa arab fasih) Assalamu alaikum!!!
Hubaib : Siapa kalian? Aku tidak mengenali kalian berdua sebagai penduduk negeri ini. Darimana kalian datang?
Rosul 2 : Kami adalah utusan Isa Al Masih Alaihissalam. Kami diutus kemari untuk mengajak kaummu kepada tauhid.
Rosul 1 : Maukah anda kami tunjukkan jalan keselamatan?
Hubaib : Saya tidak sedikitpun paham dengan kalian. Apa? Tauhid? Keselamatan?
Rosul 2 : Tauhid adalah mengesakan Allah. Tidak ada sesembahan apapun kecuali kita tunduk dan berpasrah kepada dzat yang menguasai kita. Dialah Allah Robbul “Aalamiin
Rosul 1 : Keselamatan adalah keselamaan yang abadi, sekarang dan selamanya. Selamat dari murka Allah yang digenggamnanNya Dia menentukan apa saja.
Hubaib : Yakinkan aku bahwa itu benar. Bukti apa yang bisa menguatkan bahwa kalian tidak sedang berbicara indah. Nyatakan kebenaran itu, bahwa kalian adalah murid murid Isa Almasih, bahwa Tuhan yang kau katakan itu ada.
Rosul2: Apakah itu perlu? Tidak cukupkah hatimu yang bicara?
Hubaib: Agar kaumku tahu bahwa kebenaran telah menyapa kita.
Rosul 1: Nabi kami menyembuhkan orang sakit lepra, menyembuhkan baros, beliau menyembuhkan orang buta, bahkan beliau menghidupkan orang mati. Itu semua karena kehendak Allah. Dengan izin Allah kami bisa memintakan hal yang sama.
Hubaib: Aku buta, minta tuhanmu sembuhkan aku!
Rosul 1: Kalau itu membuat kebaikan untuk anda baiklah kami akan berdo’a.
(Keduanya bersimpuh dan berdo’a lalu mengusap mata hubaib)
Hubaib: (Perlahan bisa merasakan penglihatannya) Aku melihat, bagaimana ini terjadi, mu’jizat! Mu’jizat! Aku Melihat!! (berteriak keras sehingga para penduduk berkerumun)
Hubaib : (disaksikan orang orang hubaib merangkul kedua utusan itu dan kemudian berbicara pada kerumunan) Wahai kaumku mereka berdua adalah utusan Isa Almasih yang telah meenyembuhkan mataku. Mereka mengajak kita untuk meninggalkan berhala berhala kita dan hanya menyembah pada Allah Tuhan yang telah menjawab permintaan hambanya.
Penduduk : Itu hanya kebetulan. Jangan hanya percaya pada tipudaya. Kalau mereka benar mereka bisa menyembuhkan lumpuh ayahku.
Rosul 2 : Datangkan ayahmu kemari
Penduduk: Baik buktikan saja (seorang tua di papah naik pangung dan kemudian diletakkan di depan kemudian kaki kakinya diusap dengan membaca bismillah dan dilatih berdiri dan akhirnya berdiri keheranan)
Laki laki lumpuh: terimaksih tuan tuan, bertahun tahun kaki kakiku lumpuh memaksa aku menjadi seperti tawanan. Berkat Tuhan tuan aku sembuh, saksikan tuan bahwa aku ikut dengan agama tuan apa yang mesti aku lakukan?
Rosul 2 : Jangan sekutukan Allah dan berbuat baiklah kepada semua manusia. Jadilah para penolong Allah. Baktikan dirimu dijalan kemaslahatan.
Rosul 1 : Negeri akherat adalah tujuan kita, yaitu kehidupan setelah kita dunia ini. Setelah kematian kita di dunia ini justru itu adalah awal kita memasuki pada alam keabadian yang sebenarnya. Itulah keadaan yang sebenarnya yang mencerminkan siapa kita…..
(ditengah tengah manusia yang sudah tunduk mendengar nasehat dari dua utusan tiba tiba tentara kerajaan datang dan menghardik orang-orang)
Tentara : Ada apa ini? Kalian pasti sedang melakukan makar terhadap raja. Tangkap dua orang asing itu! Jangan coba coba melakukan hal diluar titah raja, ngerti kalian semua!!!!
(beberapa tentara membawa dua orang utusan dan keluar dari panggung, begitu juga para penduduk satu persatu turun dari panggung)

Stage 2
(Rosul 3 atau Syam’un memasuki panggung melakukan monolog. Kostum yang dipakai adalah kostum seorang pengelana, yaitu pakain hitam berikat kepala dan membawa bekal ditangannya.)

Rosul 3 : Pertempuran belum dimulai dua temanku telah tertangkap. Mereka orang ikhlas tapi terlalu dini untuk menunjukkan jati diri. Kenapa mereka terburu buru padahal mereka tahu bahwa al ajalah minas syaaithon terburu buru itu kerjaan syetan. Saya akanmenyusul kalian tapi dengan caraku sendiri ( berjalan menuruni panggung)
Stage 3
(Situasi di istana kerajaan raja duduk di kursi singgasananya sementara para abdi berada di kiri kanan raja duduk di bawah lantai)
Raja : Bagaimana keadaan di luar apakah ada masalah penting yang mengganggu jalannya pemerintahan kita?
Abdi 1 : Kemarin ada dua orang asing yang mencoba menghasut rakyat kita untuk tidak lagi menyembah tuhan tuhan kita yang mulia, Tuan.
Raja : Lantas?
Abdi 2 : Anak buahku telah kuperintahkan saat itu juga untuk menangkap mereka dan menjebloskan ke penjara kerajaan.
Raja : Bagus. Kalian memang pembantu pembantu setiaku. Sudah sepantasnya para pengacau dihukum seberat beratnya.
(Seorang abdi yang lain masuk melapor)
Raja : Ada apa?
Abdi 3 : Ada tamu dari kerajaan lain yang ingin bertemu tuan.
Raja : Persilahkan menghadap!
Abdi 3 : Baik tuan.
( Rosul 3 dan abdi masuk dan duduk di depan raja)
Raja : Perkenalkan dirimu! Darimana dan ada perlu apa kau ke sini?
Syam’un: Ampun tuan, nama hamba sam’un. Hamba adalah hanya seorang pengelana dari negeri jauh. Kaki hamba yang membawa ke sini. Hamba mendengar di negeri ini ada raja yang sangat kuat dan disegani rakyatnya karena ketegasannya. Untuk itu hamba ingin mengabdi pada tuan untuk belajar banyak hal pada Tuan.
Raja : Tidak aneh setiap orang ingin dekat dan menempel pada kekuasaanku. Kenapa aku harus menerimamu. Aku tidak melihat kau berarti untukku.
Syam’un : Ampun Tuan. Di negeri hamba, hamba adalah penasehat kerajaan. Tapi kemudian hamba tidak dibutuhkan lagi karena Raja kami telah berubah haluan. Raja kami telah terhasut oleh para pengikut Isa sehingga nasehat saya tidak dianggap lagi. Bahkan nyawa hamba terancam sehingga hamba menurutkan langkah mencari selamat. Akhirnya beruntung saya bisa ada di sini di depan tuan.
Abdi 1 : Kebetulan tuan, dua orang pengacau kemarin juga mengaku sebagai utusan Isa. Kalau begitu kita butuh orang ini untuk menangkal pengaruh mereka di negeri kita. Karena saya melihat mereka sempat menanamkan pengaruh di hati rakyat kita. Saya takut ini menjadi kekuatan besar.
Abdi 2 : Saya melihat mereka sempat menanamkan pengaruh di hati rakyat kita. Saya takut ini menjadi kekuatan besar yang tak terbendung apabila kita terlambat menanganinya.
Raja : Baik, tidak ada salahnya aku menerimamu. Karena kita punya musuh yang sama. Apa yang mesti kita lakukan?
Syam’un: Segera seret mereka ke Alun Alun untuk kita sidang. Kita patahkan keyakinan mereka di depan Rakyat. Aku akan ada di belakang Tuan. Kita suruh mereka buktikan ucapan mereka dan kita siksa mereka biar rakyat belajar untuk tidak berani pada Tuan.
Raja : Saya setuju. Segera besok akan saya gelar sidang besar besaran di tengah rakyat. Bantu aku untuk melemahkan ideologinya. Sebaiknya kita siapkan segala hal untuk besok. Kamu ! kamu! Kamu! Bergegaslah untuk menyiapkan persidangan.
Syam’un: Saya mohon diperkenankan untuk bertemu mata pada dua tahanan itu tuan. Kalau diijinkan saya ingin mengorek keterangan sebagai bekal sidang besok.
Raja : Silahkan, pengawal akan mengantarmu kesana. Sementara saya akan beristirahat dulu.
(Raja diikuti semua yang ada keluar menuruni panggung)

Stage 4

(Dua orang sedang bermunajat lirih di dalam penjara. Kedua tangan mereka terikat sesekali berdo’a sesekali sujud sebisanya, dan datanglah syam’un dengan pengawal)

Syam’un: Pengawal tolong tinggalkan aku bersama mereka
Pengawal: Baik tuan!
Syma’un : (mendekati ke dua tawanan) Saudaraku!
Rosul 1 : Kau rupanya syam’un?
Syam’un : Bersabarlah saudaraku, besok kalian akan disidangkan? Ada dua kemungkinan kalian akan bebas dan memenangkan perjuangan kalian, atau kalian akan tetap sebagai tawanan dan entah sampai kapan. Tetaplah kuat dalam keyakinan kalian.
Rosul 2 : Kau bagaimana?
Syma’un: Berpura puralah tak mengenalku, karena aku ada di belakang raja. Aku akan membantu kalian dari tempat yang berbeda. Bagaimana kalian di sini?
Rosul1 : Usahakan air untuk kami, agar kami bisa sedikit minum dan bersuci.
Syaam’un: Tenanglah!sebentar! ( memanggil pengawal) Pengawal …!
Pengawal: Ya tuan apa yang bisa kami kerjakan?
Syam’un: Bawa mereka ke sumur! Guyur mereka biar otak mereka sadar! Kalau masih keras kepala sekap lagi mereka di sini!
Pengawal: Baaik Tuan!
( pengaawal membawa dua utusan keluar panggung, dan syam’un juga ikut keluar panggung)

Stage 5

(Raja, syam’un, sera para pengawal memasuki persidangan /panggung.

Raja : Apa kamu yakin kita bias membungkam mulut mereka dengan kepandaianmu berbicara.
Syam’un: Apalah artinya saya tuan, dibanding kepiawaian tuan. Dengan kekuasaan tuan itu perkara kecil. Saya yakin mereka akan jera bermain main dengan tuan.
Raja : Baik kita sidang mereka sekarang saja. Prajurit! Bawa dua tawanan itu kemari.
(Dua prajurit membawa tawanan naik panggung di bawa ke depan Raja dan pengikutnya)
Raja : Hai kalian orang orang bodoh, Katakan apa maumu?
Rosul 2 : Maaf tuan, kami tidak punya kemauan apa apa secara pribadi, kami hanya penyampai pesan dari nabi kami untuk menyadarkan kalian dan manusia yang lain.
Rosul 1 : Nabiyulloh Isa Al masih menyuruh tuan untuk berhenti menyembah berhala dan kembali kepada Allah.
Syam’un: Kalian mengaku para pengikut Isa. Apa buktinya?
Rosul 2 : bukti apa yang tuan tuan minta.
Raja : Bukti bahwa kalian adalah murid Isa yang mengaku nabi itu, dan buktikan bahwa kenabiannya itu bukan omong kosong, atau kalian mati saja dari pada saya melihat orang orang tolol seperti kalian!
Rosul 1 : Mintalah pada Allah, Dia adalah dzat yang tidak ada kemustahilan untuk mendatangkan perkara apa saja.
Raja : Siapa yang menciptakan Mati?
Rosul 1 : Allah
Raja : Bodoh! Aku yang menciptakan mati karena kau saat ini bisa mati kalau aku mau!!!
Rosul2 : Kalau begitu bisakah tuan menghidupkan kami kalau nanti tuan telah membunuh kami. Karena tuhan kami adalah dzat yang mematikan sekaligus dzat yang menghidupkan.
Raja : Baik aku mengaku tak mampu untuk hal itu, tapi…apakah bisa tuhanmu menghidupkan bangkai yang sudah mati. Apakah itu juga mungkin. Pikir! Itu mustahil…, sudah sudah jangan buang buang waktu lagi, kalian minta maaf pada saya, lalu saya maafkan kalian, lalu kalian pergi, saya jamin keselamatan kalian.
Rosul 1 : Kalau Allah menghendaki tak ada yang tak mungkin tuan.
Raja : Hey…. Rupanya kalian masih ngotot kalau bangkai bisa hidup kembali. Kalau begitu buktikan! (menyuruh kepada pengawaalnya) Bawa jasad orang mati ke sini biar mereka buktikan bualan mereka. Kita nanti akan tahu betapa bodohnya mereka.
(Pengawal membawa sosok mayat ke tengah tengah sidang, sekeika semua yang hadir menutup hidung karena mayat itu sudah berbau)

Pengawal: Ini sosok mayat yang tuan inginkan, mayat ini telah meninggal tujuh hari yang lalu.
Raja : Silahkan orang orang bodoh, mintalah pada tuhan kalian untuk menghidupkan jasad ini!
Rosul2 : Dengan izin Allah kami akan berusaha.( dua utusan melakukan ritual do’a)
Raja : Heii semuanya lihatlah dua orang bodoh ini mau mengeluarkan kekuatannya ha ha… lucunya mereka… ha ha … (mengomentari apa apa yang dilakukan dua orang itu, seluruh orang yang hadir tertawa kecuali syam’un yang diam diam mencemaskan dua temannya.)
Orang2 : hei …mana bisa mayat sudah mai hidup kembali sadar sadar…
(tiba tiba mayat itu sedikit demi sedikit bergerak dan seketika menghentikan tertawa orang orang yang hadir sehingga raja mulai panik)

Raja : Syam’un.. bagaimana ini mayat itu mulai bergerak. Ternyata mereka punya kekuatan yang tidak sembarangan.
Syam’un: Tenang tuan.. sebaiknya kita minta pada tuhan kita, berhala yang ada di kuil itu, tentu mereka akan menolong kita menghadapi kekuatan mereka.
Raja : Syam’un… (marah tapi dengan nada yang ditahan) sebagaimana saya kamupun tahu bahwa berhala berhala itu adalah batu belaka yang kita ukir, kita pahat, dan kita minyaki setiap hari. Mana bisa batu memberi pertolongan?
(tiba tiba si mayat duduk dan berbicara)
Mayat : Wahai manusia semuanya ketahuilah selama tujuh hari saya telah merasakan pengalaman yang mengenaskan. Saya telah mati. Saya orang kafir seperti kalian, penyembah berhala yang bisu. Aku disiksa, remuk badanku ditimpa, malaikat berwajah bengis tak punya rasa, berkali kali menyuguhkan sengsara. Panas aku dilecut, tak ada yang kuraih selain rasa takut. Lalu ..ada tiga orang menolongku…..
Raja : Tiga orang? Aneh … siapa mereka?
Mayat : (tanpa berkata menunjuk pada dua orang utusan)
Raja : Tiga orang, siapa satu orang lagi?
Mayat : (tanpa berkata kata menunjuk syam’un, lalu tergeletak kembali seperti semula)
Raja : Syam’un ternyata kau bagian dari skenario ini. Kalau begitu tidak ada yang pantas kalian terima kecuali hukuman yang seberat-beratnya.
Syam’un: Wahai raja, masihkah tuan menutup hati untuk semua yang telah terbukti. Kami hanya utusan, tugas kami adalah menyampaikan.
Raja : pengawal!!! Bawa tiga orang ini siksa mereka, ikat di tempat terbuka, biar semua melihat betapa sengsaranya orang yang mencoba mengakali raja.
Pengawal: baik tuan (membawa tiga orang utusan dan keluar panggung, kemudian diikuti raja dan yang lain)
Stage 6
(di ladang yang gagal panen seorang petani berdiri kacau)
petani 1: Walaah payah! Sawah kering, sungai kering, kolam kering, tanaman mati semua. Wahai tuhan tuhan terhormat, kenapa kau payah, kau kere bagaimana kami bisa makmur kalau tuhan tuhan terhormat kere. Hah??>???
Petani2: (datang menyusul ) Ada apa kawan? Kau kelihatan stress kacaaaau.
Petani1: Lihat yang di depan kita ini, apa yang bisa kita harapkan dari sawah kering seperti ini. Yang punya hujan itu pelit minta ampun, kita dibiarkan kekeringan.
Petani2: Kamu tahu segalanya terjadi seperti ini sejak kedatangan tiga orang itu. Mereka mengusik tuhan tuhan kita sehingga mereka marah. Dan akhirnya inilah akibatnya.
Petani1: Kalau begitu kita habisi saja mereka biar tuhan tuhan kita senang dan bencana ini segera hilang.
Petani 2: Saya setuju kawan, segera kita kumpulkan orang orang , kita habisi orang orang yang ngak jelas itu.
(Keduanya turun panggung)

Stage7
(tiga utusan dengan payah tangan masih terikat masuk panggung jatuh tersungkur disusul orang orang yang menyiksa dengan cambuk, dengan kayu, dengan guyuran air, dengan lemparan batu dan dengan sumpah serapah. Datanglah hubaib yang menghentikan penyiksaan itu)

Hubaib : Hentikan kebiaadaban ini. Kalian manusiakah atau binatang?
Penduduk1: Diam kamu hubaib, Mereka pantas menerimanya karena telah membikin kita semua sengsara. Kedatangan mereka ke negeri kita hanya membuat tuhan tuhan kita marah dan kemudian menghentikan hujan untuk kita, benar kawan kawan?
Orang2 : benar…..
Hubaib : Bodohnya kalian. Mengapa kalian tidak berpikir sebaliknya, Kalianlah yang telah tega berbuat aniaya. Mencuri milik tetangga , membunuh sesama, berjudi dan foya foya, dan kalian menyembah batu yang tak bisa mendengar dan berbicara.
Penduduk2: Hubaib kau ada di pihak mana? Mengapa kau bela mereka?
Hubaib : Aku tidak membela mereka. Tapi aku melihat kebenaran ada pada mereka. Ikutilah mereka, mereka adalah utusan yang tidak meminta upah. Mereka hanya mau kita terselamatkan.
Penduduk3: kalau begitu ikutlah bersama mereka (menampar hubaib dengan keras)
Hubaib : Apa salah saya kalau aku harus ikut beserta mereka. Apakah aku yang mengerti ini harus ikut kalian yang bodoh dan tuli?
Penduduk1: Sadar hubaib kau telah terbujuk mereka dan berani menghina kami.
Hubaib : Wahai para utusan saksikanlah dan dengarkanlah bahwa aku beriman kepada Tuhan kalian.
Peduduk: Bunuh hubaib, bunuh hubaib, bunuh bunuh ( orang orang mengelilingi tiga utusan dan hubaib kemudian membuka kembali dan telah tergeletak empat orang itu dalam, diam tenang dan damai. Sementara orang orang kemudian merasakan sakit ditelinga karena ada suara lengkingan yang amat dahsyat sebagai azab dari Allah. Semua tergeletak mati dan Wassalam.

13 komentar:

galisma mengatakan...

naskahx dramax ckp bagus... n ak ska ngebacax.. bolhkan klo ak ngeprint...?

muhamad khamim mengatakan...

boleh aja

nurra nicha mengatakan...

ijin ngopi ya..

muhamad khamim mengatakan...

ngopi, ngeteh, nyusu, monggo mawon

kasboelah mengatakan...

mohon ijin kopi paste dan cetak. dan kalau Allah SWT mengijinkan akan kami pentskan

muhamad khamim mengatakan...

silahkan, tapi endingnya belum sempurna bisa disempurnakan sendiri, terimakasih sudi mementaskan, silahkan lihat kitab tafsir surat yasin untuk kros cek

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum,
saya tertarik dengan naskah anda, dan mohon izin untuk saya pentaskan bersama teater gaung, di Palembang.

Atas perhatiannya saya ucapkan terimkasih

Yohana
teater gaung

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum,
saya tertarik dengan naskah ini,mohon izin untuk deperbanyak dan dipentaskan pada lomba teater islami, di RRI, menyambut ramadhan tahun ini.

atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

Yohana
teater gaung, di Palembang

muhamad khamim mengatakan...

Halal untuk dipentaskan dan silahkan dikopi atau dipublikasikan, tapi tidak untuk kepentingan komersil atau pemalsuan karya. thanks for your attention...

Astil harli roslan mengatakan...

karang sendiri ya.....

muhamad khamim mengatakan...

iya

Beds mengatakan...

Assalaamu`alaikum!

Kang, izin copas ya!
Klo ada kesempatan, kami akan pentaskan...
Terima kasih sebelumya...!

Wassalam!

muhamad khamim mengatakan...

iya boleh